Kotak Pensil yang Tidak Pernah Dibuang
Sejak kecil, Dimas dan Raka hampir selalu bertengkar.
Mereka hanya terpaut tiga tahun.
Jika Dimas mengambil remote televisi, Raka akan merebutnya. Jika Raka membeli makanan kesukaan mereka, Dimas akan meminta bagian lebih banyak.
Hal-hal kecil selalu bisa menjadi alasan untuk saling kesal.
Namun ada satu benda yang selalu membuat Dimas diam-diam tersenyum.
Sebuah kotak pensil berwarna biru tua.
Kotak itu sudah tua, sudutnya penyok, dan gambarnya hampir menghilang.
Dimas mendapatkannya ketika duduk di sekolah dasar.
Saat itu ia lupa membawa kotak pensil ke sekolah. Raka yang masih kecil melihat kakaknya kebingungan.
Tanpa banyak bicara, Raka memberikan kotak pensil miliknya.
“Pakai punya aku saja.”
“Terus kamu?”
“Aku nanti pinjam punya teman.”
Sejak hari itu, kotak pensil tersebut menjadi milik Dimas.
Tahun demi tahun berlalu.
Dimas tumbuh dewasa dan mulai bekerja di luar kota. Hubungannya dengan Raka semakin jarang.
Mereka masih sesekali bertukar pesan, tetapi hampir selalu singkat.
“Sudah makan?”
“Sudah.”
“Kerja bagaimana?”
“Baik.”
Selesai.
Tidak ada lagi percakapan panjang seperti ketika mereka masih kecil.
Suatu hari, Dimas pulang karena mendapat kabar bahwa Raka akan pergi bekerja ke kota lain.
Malam itu mereka duduk di ruang keluarga.
Dimas sebenarnya ingin berbicara banyak.
Ia ingin mengatakan bahwa ia bangga kepada adiknya.
Ia ingin meminta maaf karena dulu sering mengejeknya.
Ia ingin mengatakan bahwa meskipun mereka sering bertengkar, Raka adalah salah satu orang yang paling ia sayangi.
Namun gengsi membuat semua kalimat itu berhenti di kepala.
“Jadi besok berangkat?” tanya Dimas.
“Iya.”
“Sudah siap?”
“Sudah.”
Lalu hening.
Sebelum tidur, Dimas masuk ke kamar lamanya.
Ia membuka sebuah kardus berisi barang-barang sekolah.
Di antara tumpukan buku lama, ia menemukan kotak pensil biru itu.
Dimas memegangnya cukup lama.
Ia tiba-tiba teringat wajah Raka kecil yang rela tidak membawa kotak pensil hanya agar kakaknya tidak malu datang ke sekolah dengan tangan kosong.
Keesokan paginya, Raka bersiap berangkat.
Dimas menghampirinya dan menyerahkan sesuatu.
“Ini buat kamu.”
Raka membuka tangannya.
Kotak pensil biru itu ada di sana.
Raka terdiam.
“Bukannya itu punya kamu?”
Dimas menggeleng.
“Dari dulu sebenarnya punya kamu.”
Raka tersenyum.
“Kok baru dikembalikan sekarang?”
Dimas tertawa kecil.
“Karena ternyata aku baru sadar kalau ada barang yang tidak pernah benar-benar hilang meskipun sudah bertahun-tahun disimpan.”
Raka memandangi kotak pensil itu.
Lalu ia memeluk kakaknya.
Tidak ada kata-kata panjang.
Tidak ada permintaan maaf yang dramatis.
Hanya pelukan singkat dari dua saudara yang akhirnya menyadari bahwa waktu ternyata berjalan jauh lebih cepat daripada yang mereka kira.
Sebelum pergi, Raka berkata,
“Mas, nanti kalau aku pulang, kita bertengkar lagi ya.”
Dimas tertawa.
“Boleh. Tapi jangan lama-lama.”
Mobil yang membawa Raka perlahan menjauh.
Dimas berdiri di depan rumah sampai mobil itu tidak terlihat lagi.
Hari itu ia belajar bahwa kasih sayang dalam keluarga tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata indah.
Kadang ia hadir dalam bentuk kotak pensil yang dipinjamkan.
Dalam makanan yang dibagi dua.
Dalam pertengkaran kecil.
Dalam seseorang yang diam-diam selalu memikirkan kita meskipun jarang mengatakannya.
Pelajaran dari Cerita
Kita sering terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa kita menyayangi saudara sendiri.
Kita mengira mereka akan selalu ada sehingga tidak perlu mengucapkan apa pun hari ini.
Padahal waktu tidak pernah menjanjikan kesempatan yang sama untuk kedua kalinya.
Jika ada saudara yang sudah lama tidak kita hubungi, mungkin tidak ada salahnya mengirim satu pesan sederhana.
“Apa kabar? Aku kangen.”
Mungkin hanya beberapa kata.
Tetapi bagi seseorang yang kita cintai, kata-kata itu bisa berarti sangat banyak.
Karena pada akhirnya, keluarga bukan tentang siapa yang paling sering berkata sayang.
Keluarga adalah tentang orang-orang yang tetap memiliki tempat di hati kita, bahkan ketika hidup membuat kita berjalan berjauhan.
