Radio Tua di Sudut Rumah
Sejak kecil, Bima tidak pernah menyukai radio tua milik ayahnya.
Radio itu berwarna cokelat kusam, memiliki tombol yang sudah keras diputar, dan mengeluarkan suara berdesis sebelum akhirnya menemukan siaran.
Setiap sore, ayah selalu duduk di dekat jendela sambil mendengarkan radio tersebut.
Bima sering merasa kesal.
“Ayah, kenapa masih pakai radio seperti itu? Sekarang kan sudah ada HP.”
Ayah hanya tertawa.
“Radio ini sudah menemani Ayah sejak dulu.”
Bima tidak pernah mengerti.
Baginya, benda tua adalah sesuatu yang seharusnya diganti.
Ketika Bima mulai kuliah, ia semakin jarang berada di rumah.
Kesibukannya bertambah.
Teman-temannya bertambah.
Dunia yang ingin dijelajahinya juga semakin luas.
Sementara ayah tetap dengan rutinitas yang sama.
Setiap sore, radio tua itu menyala di sudut rumah.
Suatu hari, Bima pulang dan melihat ayah sedang memperbaiki radio tersebut.
“Masih rusak?”
Ayah mengangguk.
“Suara sebelahnya sudah hilang.”
Bima tersenyum.
“Sudah, Yah. Buang saja. Beli baru.”
Ayah tidak menjawab.
Ia hanya melanjutkan memperbaiki radio dengan obeng kecil.
Bima kemudian masuk kamar.
Beberapa bulan berlalu.
Bima mendapatkan pekerjaan di kota lain.
Ia menelepon ayah untuk memberitahukan kabar tersebut.
Ayah terdengar sangat senang.
“Bagus. Kejar cita-citamu.”
Bima pun berangkat.
Hari-hari pertama terasa menyenangkan.
Pekerjaan baru.
Tempat baru.
Teman baru.
Namun setelah beberapa bulan, tekanan pekerjaan mulai terasa.
Bima sering pulang larut.
Target tidak tercapai.
Atasannya mulai menuntut lebih banyak.
Suatu malam, setelah mengalami hari yang sangat buruk, Bima pulang ke kamar kos dalam keadaan lelah.
Ia membuka ponsel.
Ada satu pesan dari ayah.
“Jangan lupa istirahat.”
Hanya empat kata.
Bima membaca pesan itu berulang kali.
Ia kemudian menelepon.
Ayah mengangkat.
“Sudah makan?”
Bima diam sebentar.
Lalu untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia berkata,
“Ayah, aku capek.”
Tidak ada nasihat panjang.
Tidak ada kalimat yang menyuruhnya menjadi kuat.
Ayah hanya menjawab,
“Kalau capek, berhenti sebentar. Besok lanjut lagi.”
Percakapan itu berlangsung singkat.
Tetapi malam itu Bima tidur lebih tenang.
Beberapa minggu kemudian, Bima pulang ke rumah.
Ia langsung melihat radio tua di sudut ruangan.
Radio itu masih ada.
Tetapi kali ini Bima tidak melihatnya sebagai barang kuno.
Ia melihatnya sebagai bagian dari kehidupan ayahnya.
“Yah.”
“Ya?”
“Boleh aku coba dengar?”
Ayah tersenyum dan menyerahkan radio itu.
Bima memutar tombol perlahan.
Suara berdesis terdengar.
Lalu sebuah lagu lama muncul.
Ayah duduk di sampingnya.
Untuk beberapa menit mereka hanya mendengarkan.
Tidak ada percakapan.
Tidak ada nasihat.
Tidak ada pembicaraan tentang pekerjaan.
Namun Bima merasa seperti sedang mengenal ayahnya untuk pertama kali.
Ia baru menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk meminta ayah memahami dirinya.
Padahal ia sendiri belum pernah benar-benar mencoba memahami ayah.
“Yah,” kata Bima pelan.
“Hmm?”
“Kenapa Ayah suka sekali radio ini?”
Ayah tersenyum.
“Karena dulu, waktu hidup Ayah sedang sulit, radio ini satu-satunya teman yang bisa membuat rumah terasa tidak terlalu sepi.”
Bima menatap ayahnya.
Untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa benda yang dianggapnya tidak berguna ternyata menyimpan bagian dari kehidupan seseorang yang sangat ia cintai.
Sejak hari itu, radio tersebut tetap berada di sudut rumah.
Namun kebiasaan Bima berubah.
Setiap kali pulang, ia tidak lagi sibuk dengan ponselnya.
Sesekali ia duduk bersama ayah.
Mereka mendengarkan radio.
Kadang berbicara.
Kadang hanya diam.
Bima akhirnya mengerti bahwa mengenal keluarga bukan hanya tentang mengetahui apa yang mereka lakukan untuk kita.
Tetapi juga tentang mengenal hal-hal kecil yang membuat mereka menjadi diri mereka sendiri.
Bertahun-tahun kemudian, radio tua itu akhirnya benar-benar tidak bisa digunakan.
Bima ingin membuangnya.
Namun sebelum melakukannya, ia melihat ayah tersenyum.
“Jangan dibuang.”
“Kenapa?”
“Biarkan saja di sana.”
Bima mengangguk.
Radio itu kemudian tetap berada di sudut rumah.
Tidak lagi untuk didengarkan.
Melainkan sebagai pengingat bahwa ada bagian dari kehidupan orang tua yang sering kita lewatkan hanya karena kita terlalu sibuk melihat mereka sebagai “ayah” dan “ibu”.
Padahal sebelum menjadi orang tua kita, mereka juga pernah memiliki mimpi, kesukaan, kesedihan, dan cerita yang tidak pernah sempat kita tanyakan.
Pelajaran Kehidupan
Kadang kita merasa sudah mengenal keluarga kita karena hidup bersama mereka bertahun-tahun.
Padahal tinggal serumah tidak selalu berarti benar-benar mengenal seseorang.
Cobalah sesekali bertanya kepada ayah tentang hal yang ia sukai.
Tanyakan kepada ibu tentang mimpi yang pernah ia miliki.
Dengarkan cerita mereka, bahkan jika menurut kita ceritanya sederhana.
Karena suatu hari nanti, kita mungkin akan menyadari bahwa hal-hal kecil yang dulu kita anggap tidak penting ternyata adalah bagian dari cerita hidup orang yang paling kita cintai.
