Pensil Pendek di Ujung Meja

Setiap pagi, seorang anak bernama Dimas selalu membawa pensil yang sama ke sekolah.
Pensil itu sudah sangat pendek. Penghapusnya hampir habis, tubuh kayunya penuh bekas gigitan, dan warnanya sudah memudar.
Beberapa teman sering menertawakannya.
“Pensilmu sudah mau habis. Kenapa tidak beli yang baru?”
Dimas hanya tersenyum.
“Masih bisa dipakai.”
Suatu hari, guru meminta seluruh siswa menulis cita-cita mereka di selembar kertas.
Ada yang ingin menjadi dokter, polisi, pengusaha, bahkan pilot.
Ketika sampai pada Dimas, ia menulis:
“Saya ingin menjadi orang yang bisa membuat ibu saya tersenyum setiap hari.”
Guru itu terdiam cukup lama.
Ia kemudian bertanya, “Kenapa bukan dokter atau pengusaha seperti teman-temanmu?”
Dimas menunduk.
“Karena ibu saya bekerja sendirian sejak ayah tidak ada. Saya tidak tahu bisa menjadi apa. Saya hanya ingin suatu hari nanti ibu tidak perlu bekerja terlalu keras.”
Guru itu tersenyum.
“Kalau begitu, jangan berhenti belajar.”
Sejak hari itu, Dimas belajar dengan sungguh-sungguh.
Pensil pendek itu selalu menemaninya.
Ketika pensilnya semakin pendek, ia memasangnya pada sebuah potongan bambu kecil agar masih bisa digunakan.
Teman-temannya kembali menertawakannya.
Namun Dimas tidak peduli.
Baginya, pensil itu mengajarkan satu hal:
Sesuatu tidak harus sempurna untuk menjadi berguna.
Tahun demi tahun berlalu.
Dimas mendapatkan beasiswa. Ia kuliah, bekerja keras, dan akhirnya menjadi seorang guru.
Pada hari pertama menerima gaji pertamanya, ia tidak membeli pakaian baru.
Ia pulang membawa sebuah hadiah untuk ibunya.
Sebuah mesin jahit.
“Ibu tidak perlu bekerja dengan tangan sampai larut malam lagi,” katanya.
Ibunya menangis.
Beberapa tahun kemudian, Dimas kembali ke sekolah lamanya untuk memberikan bantuan pendidikan.
Saat memasuki ruang kelas, ia melihat seorang anak duduk sendirian di ujung meja.
Anak itu hanya memiliki sebuah pensil pendek.
Dimas duduk di sampingnya.
“Pensilmu pendek sekali,” katanya sambil tersenyum.
Anak itu terlihat malu.
“Maaf, Pak. Saya belum bisa beli yang baru.”
Dimas mengambil pensil itu, lalu berkata,
“Tidak perlu malu. Saya dulu juga punya pensil seperti ini.”
Anak itu menatapnya.
“Benarkah, Pak?”
Dimas mengangguk.
“Bahkan pensil itu pernah membuat saya mengerti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mencoba.”
Ia kemudian memberikan sebuah buku kepada anak tersebut.
“Gunakan pensilmu sampai benar-benar habis. Tapi jangan pernah habiskan harapanmu.”
Anak itu tersenyum.
Bertahun-tahun kemudian, Dimas menerima sebuah surat.
Pengirimnya adalah anak yang pernah duduk di ujung meja itu.
Di dalam surat tertulis:
“Pak, pensil saya sudah lama habis. Tapi kata-kata Bapak masih saya simpan. Sekarang saya sedang kuliah dengan beasiswa.”
Dimas membaca surat itu berulang kali.
Ia kemudian membuka laci mejanya.
Di sana masih tersimpan pensil pendek miliknya dari masa sekolah.
Pensil yang dulu dianggap tidak berharga.
Pensil yang ternyata menjadi saksi bahwa seseorang bisa memulai dari sesuatu yang sangat sederhana.
Pesan Moral
Jangan malu dengan apa yang kita miliki hari ini.
Tidak semua orang memulai dengan fasilitas yang sama. Ada yang memiliki banyak kesempatan, ada pula yang harus berjuang dengan keterbatasan.
Namun yang menentukan masa depan bukan seberapa panjang pensil yang kita punya.
Yang menentukan adalah seberapa banyak kita mau menulis dengan pensil itu sebelum benar-benar habis.
Karena terkadang, sesuatu yang dianggap kecil oleh orang lain justru menjadi awal dari perubahan besar dalam hidup kita.
