Ketika Abdurrahman bin Auf Memilih Allah daripada Harta
Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu sahabat Rasulullah yang dikenal kaya. Namun, sebelum memiliki harta yang melimpah, ia pernah mengalami keadaan yang sangat berbeda.
Ketika kaum Muslimin di Makkah mendapatkan tekanan yang semakin berat, Rasulullah mengizinkan para sahabat untuk berhijrah ke Madinah.
Abdurrahman bin Auf pun meninggalkan Makkah.
Ia meninggalkan rumah.
Ia meninggalkan harta.
Ia meninggalkan perdagangan yang telah dibangunnya.
Ia bahkan meninggalkan banyak hal yang selama ini membuat hidupnya nyaman.
Sesampainya di Madinah, Rasulullah mempersaudarakan Abdurrahman dengan seorang sahabat Anshar bernama Sa’ad bin Ar-Rabi’ radhiyallahu ‘anhu.
Sa’ad adalah seorang yang berkecukupan.
Dengan penuh ketulusan, ia menawarkan bantuan kepada Abdurrahman.
“Aku memiliki harta. Aku akan membaginya denganmu,” demikian makna tawarannya.
Bahkan ia menawarkan salah satu rumah dan hartanya kepada saudaranya yang baru datang dari Makkah.
Namun Abdurrahman bin Auf tidak mengambil kesempatan itu.
Ia tidak memanfaatkan kebaikan saudaranya untuk hidup dalam kenyamanan.
Ia justru berkata dengan kalimat yang sangat terkenal:
“Tunjukkan kepadaku di mana pasar.”
Sederhana.
Tidak panjang.
Tetapi kalimat itu menggambarkan karakter seorang lelaki yang memiliki keyakinan kuat.
Abdurrahman tidak meminta ikan.
Ia meminta ditunjukkan tempat untuk memancing.
Ia tidak ingin hidup hanya dari pemberian.
Ia ingin berusaha dengan tangannya sendiri.
Ia mulai berdagang.
Sedikit demi sedikit, usahanya berkembang.
Allah memberikan keberkahan dalam rezekinya.
Namun semakin banyak harta yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab yang ia rasakan.
Abdurrahman tidak menjadikan kekayaan sebagai tujuan akhir.
Hartanya justru menjadi sarana untuk berbuat baik.
Ia banyak bersedekah dan membantu perjuangan kaum Muslimin.
Suatu ketika, rombongan besar datang membawa harta dan barang dagangan milik Abdurrahman bin Auf.
Kota Madinah menjadi ramai.
Orang-orang melihat betapa besarnya kekayaan yang telah Allah berikan kepadanya.
Namun bagi Abdurrahman, harta itu bukan sesuatu yang harus membuat dirinya sombong.
Ia tahu bahwa semua itu hanya titipan.
Ada sebuah pelajaran penting dari kehidupan Abdurrahman bin Auf.
Kehilangan harta tidak selalu berarti kehilangan masa depan.
Ketika ia meninggalkan Makkah, mungkin secara duniawi ia terlihat seperti orang yang kehilangan segalanya.
Tetapi ia tidak kehilangan hal yang paling penting: iman, keberanian, dan kemauan untuk berusaha.
Ia tidak terus meratapi apa yang telah ditinggalkannya.
Ia melihat ke depan.
Ia bekerja.
Ia berdagang.
Ia berusaha.
Dan ia menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Kisah ini terasa dekat dengan kehidupan kita.
Ada saat ketika seseorang kehilangan pekerjaan.
Ada yang usahanya bangkrut.
Ada yang tabungannya habis.
Ada pula yang harus memulai kembali kehidupan dari nol.
Dalam keadaan seperti itu, mudah sekali untuk berkata:
“Sudah tidak ada harapan.”
Tetapi Abdurrahman bin Auf mengajarkan sesuatu yang berbeda.
Selama iman masih ada dan tangan masih mampu berusaha, pintu harapan belum tertutup.
Jangan terlalu lama menangisi sesuatu yang telah Allah ambil.
Bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk memulai perjalanan yang baru.
Dan ketika rezeki itu kembali datang, jangan lupa bahwa kekayaan bukan hanya untuk dinikmati sendiri.
Ada hak orang lain di dalamnya.
Ada kesempatan untuk membantu.
Ada peluang untuk menjadi sebab kebahagiaan orang lain.
Abdurrahman bin Auf membuktikan bahwa seseorang bisa menjadi kaya tanpa diperbudak oleh kekayaannya.
Ia memiliki harta, tetapi hatinya tidak menjadi milik harta.
Karena kekayaan yang sebenarnya bukanlah ketika seseorang memiliki banyak, melainkan ketika ia tetap mampu mengatakan: “Ini semua milik Allah.”
Jika hari ini kita sedang memulai kembali dari nol, jangan merasa rendah.
Mungkin kita belum memiliki apa-apa.
Mungkin hanya ada doa, keberanian, dan sedikit kemampuan yang kita miliki.
Mulailah.
Berusaha dengan jujur.
Jangan malu memulai dari bawah.
Dan ketika Allah memberikan hasilnya, gunakanlah sebagian dari rezeki itu untuk menjadi manfaat bagi sesama.
Sebab hidup seorang Muslim bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan.
Tetapi tentang seberapa banyak kebaikan yang bisa ditinggalkan.
