Sumur yang Menjadi Amal Jariyah Utsman bin Affan
Di Madinah, ada sebuah sumur yang airnya sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
Airnya jernih dan segar.
Namun ada satu masalah.
Sumur tersebut bukan milik umum. Orang-orang yang ingin mengambil air harus membayar kepada pemiliknya.
Bagi orang yang memiliki banyak harta, mungkin itu bukan persoalan besar.
Tetapi bagi masyarakat yang hidup sederhana, setiap kebutuhan yang harus dibayar tentu terasa berat.
Rasulullah ﷺ mengetahui keadaan tersebut.
Beliau kemudian mendorong para sahabat untuk membantu menyediakan air bagi kaum Muslimin.
Di antara para sahabat yang mendengar seruan itu adalah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.
Utsman bukanlah orang yang miskin.
Ia adalah seorang pedagang yang sukses.
Namun kekayaannya tidak membuatnya lupa bahwa semua yang dimilikinya hanyalah titipan Allah.
Ia mendatangi pemilik sumur tersebut.
Utsman kemudian membeli sumur itu.
Bukan untuk dirinya sendiri.
Bukan untuk menaikkan harga air.
Bukan pula untuk menjadikannya sumber keuntungan pribadi.
Ia menjadikannya sebagai sumber air yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Bayangkan jika Utsman hanya berpikir:
“Aku sudah bekerja keras mendapatkan harta ini. Mengapa harus aku keluarkan?”
Mungkin ia bisa saja berpikir demikian.
Tetapi Utsman memilih jalan yang berbeda.
Ia melihat kebutuhan orang lain sebagai kesempatan untuk mendapatkan pahala.
Sejak saat itu, air sumur tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat dengan lebih mudah.
Harta Utsman berkurang.
Tetapi manfaatnya justru semakin besar.
Inilah salah satu keindahan sedekah.
Kadang-kadang ketika kita memberikan sesuatu, secara kasatmata kita merasa kehilangan.
Uang keluar dari dompet.
Makanan berpindah kepada orang lain.
Waktu kita digunakan untuk membantu seseorang.
Tenaga kita habis untuk melakukan kebaikan.
Tetapi di sisi Allah, sesuatu yang kita keluarkan dengan ikhlas tidak pernah benar-benar hilang.
Kisah Utsman mengajarkan bahwa kekayaan yang paling indah adalah kekayaan yang memberikan manfaat.
Tidak semua orang memiliki kemampuan membeli sebuah sumur.
Tidak semua orang memiliki harta yang besar.
Tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk melakukan kebaikan.
Ada yang bisa membantu dengan uang.
Ada yang bisa membantu dengan makanan.
Ada yang bisa membantu dengan ilmu.
Ada yang bisa membantu dengan tenaga.
Bahkan ada yang hanya mampu memberikan senyum dan perkataan yang menenangkan.
Nilai sebuah kebaikan bukan selalu ditentukan oleh besarnya jumlah yang diberikan.
Yang membuatnya bernilai adalah keikhlasan dan manfaat yang ditinggalkannya.
Utsman bin Affan juga mengajarkan satu hal yang sering kita lupakan:
Jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa aku dapatkan?”
Sesekali tanyakan kepada diri sendiri:
“Apa yang bisa aku berikan?”
Pertanyaan sederhana itu dapat mengubah cara seseorang menjalani hidup.
Ketika melihat tetangga kesulitan, kita terdorong membantu.
Ketika melihat orang lapar, kita tergerak memberi makan.
Ketika ada seseorang yang membutuhkan ilmu, kita membagikan pengetahuan.
Ketika melihat orang sedang jatuh, kita membantu mengangkatnya.
Sebab hidup yang penuh keberkahan bukan hanya tentang memiliki banyak.
Tetapi tentang membuat apa yang kita miliki menjadi jalan kebaikan.
Utsman mungkin telah tiada sejak berabad-abad lalu.
Namun kebaikan yang ia lakukan tetap menjadi bagian dari sejarah umat Islam.
Itulah yang disebut amal yang manfaatnya terus mengalir.
Kita sering sibuk memikirkan apa yang akan kita tinggalkan untuk anak-anak setelah meninggal.
Rumah.
Tanah.
Tabungan.
Usaha.
Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih berharga untuk dipikirkan:
Kebaikan apa yang akan tetap hidup setelah kita tidak lagi ada?
Mungkin sebuah ilmu yang pernah kita ajarkan.
Mungkin seseorang yang pernah kita bantu.
Mungkin sebuah masjid yang kita ikut bangun.
Mungkin sebuah buku yang mengubah kehidupan seseorang.
Atau mungkin sebuah pertolongan kecil yang tidak pernah kita anggap penting.
Karena kita tidak pernah tahu, kebaikan kecil mana yang kelak menjadi alasan Allah memberikan keberkahan besar dalam hidup kita.
Utsman bin Affan tidak hanya membeli sebuah sumur.
Ia mengajarkan kepada generasi setelahnya bahwa harta akan menjadi lebih mulia ketika berubah menjadi manfaat bagi orang lain.
Maka jika hari ini Allah memberikan kita rezeki, jangan hanya menghitung berapa banyak yang bisa kita simpan.
Hitung juga berapa banyak kebaikan yang bisa kita ciptakan dengannya.
Sebab pada akhirnya, yang kita bawa bukanlah banyaknya harta yang pernah kita miliki.
Tetapi amal yang pernah kita tanam.
Dan boleh jadi, sesuatu yang kita anggap kecil hari ini justru menjadi pahala yang terus mengalir ketika kita sudah tidak mampu melakukan apa-apa lagi.
